5 Gembok Mental-Menguak Tabir Kekuatan Dahsyat Alam Bawah Sadar

 

seminar-jakut-300x189

Seminar : membantu kita untuk kembali semangat, namun bertahan berapa lama?!

Pernahkah Anda merasa semangat luar saat mendapatkan pujian atau penghargaan?! Berapa lama semangat itu bertahan? Sehari, dua hari, atau seminggu?

Lalu pernahkah juga Anda enggan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya berguna bagi Anda? Jujur, perasaan ini juga pernah dialami setiap orang. Termasuk manusia yang hari ini kita kenal sebagai orang terkaya, terpandai, terkenal, dan sebagainya. Zang Ma, Sandiaga Uno, Hamzah Izzulhaq, Jamil Azzaini, Steve Jobs, Jackie Chan pun juga punya potensi sama seperti kita. Potensi untuk sukses yang tercipta satu paket dengan potensi untuk menolak untuk sukses. Lalu apa yang membedakan mereka dan kita hanya kita lebih berpihak pada hal yang menghebatkan kita ataukan kita membela rasa enggan melakukan hal yang berguna bagi masa depan kita.

Sama seperti rasa cinta maupun rasa amarah. Meski tidak dapat kita indera, tapi kita bisa memilih untuk mengendalikannya. Memang dampaknya besar apabila rasa enggan ini kita biarkan. Semakin kita berlama-lama membiarkannya tumbuh, ia makin mencengkeram kuat dalam diri kita. Seakan mengunci secara kuat seperti rantai gembok besar yang menjadi penjara mental kita. Sehingga butuh kunci yang tepat untuk membukanya.

Dari berbagai riset dan pengalaman, Pakar Mindset merangkum potensi enggan sukses alias Gembok Mental tersebut dalam lima kelompok :

Pertama, gembok mental bernama “dalih usia”. Untuk memulai suatu hal, sebagian orang berdalih mereka masih terlalu muda untuk memulai, sebagian juga berdalih sudah terlanjur tua untuk memulai. Mari kita tengok kisah Mark Zukerberg yang mendirikan Facebook sejak usia 19 tahun. Atau Kolonel Sanders yang baru kepikiran membuat waralaba ayam goring di usia kepala enam alias sekitar 65 tahun.

Kedua, Gembok Mental bernama “dalih kekayaan”. Memang sang Pencipta tidak memandang kita kaya ataukah miskin, namun di luar sana masih banyak orang yang berdalih “Saya sudah mapan, ngapain juga harus ikut seminar atau sukses-suksesan ala mereka…” maupun “Saya ini sudah bisa makan saja cukup, bagi saya sukses pantas bagi mereka, karena sukses itu mahal”. Jika Gembok Mental jenis ini yang mengekang kita mari kita tengok Bill Gates yang kaya namun bukan berarti berhenti menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Berikutnya tidak asing di telinga kita ada anak seorang tukang, petani, dan buruh bisa sarjana atau pun meraih prestasi lainnya.

Ketiga, Gembok Mental bernama “dalih kesehatan”. Tercipta dengan hanya empat jari tangan dan kaki hanya selutut ditambah intelegensia di bawah rerata tak menghalangi Hee Ah Lee menjadi pianist klasik yang namanya mendunia. Buta, tuli, dan bisu sejak balita juga tak menghalangi Hellen Keller menjadi politisi wanita sekaligus penulis best seller. Jika mereka yang diberi keterbatasan fisik tetap berprestasi bahkan melebihi rerata orang yang normal fisik, tentu kita bisa menjadi yang lebih baik dari sekarang.

Keempat, Gembok Mental bernama “dalih pendidikan”. Gembok ini menjadi pasung hingga akhir hayat dengan kalimat seperti, “ini bukang bidang akademis saya, jadi buat apa saya mempelajarinya” bagi orang berpendidikan formal lebih tinggi maupun bagi yang kurang beruntung “Mereka yang sarjana saja belum tentu bisa, apalagi saya?!”. Orang yang berhasil memecah gembok jenis ini diantaranya, J.K. Rowling yang sukses dengan karya novel Harry Potter-nya meski ia bukan lulusan jurusan sastra dan bahasa, melainkan urusan akutansi. Ada juga Merry Riana yang sukses menjadi motivator dan pengusaha di bidang keuangan meski ternyata sarjana elektro. Kita pun mengenal Bob Sadino maupun Ciputra, mereka membangun kerajaan bisnis meski bukan seorang sarjana.

Kelima, Gembok Mental bermerk “sudah takdir”. Misal,

“Saya kan pria mas, mana mungkin pandai urusan dapur”

“Suku dari keluarga saya tidak mengajarkan demikian… pamali… nanti bisa sial”

“Biasanya orang shio kambing, atau Cancer memang cerdas”

“Keluarga saya tujuh turunan semua pegawai dan PNS, mana mungkin jadi pengusaha?!”

“Saya tidak bakat menjadi pembicara, itulah mengapa saya diciptakan dengan dua telinga dan hanya satu mulut… Agar jadi pendengar yang baik #pesanmoral”

Semoga kita mampu membuka dan membongkar Gembok Mental penghalang kesuksesan.

Salam Mindset Hebat!! (Farouk Amsyari-Pakar Mindset)

Iklan

17 thoughts on “5 Gembok Mental-Menguak Tabir Kekuatan Dahsyat Alam Bawah Sadar

  1. Islam Squad Leader berkata:

    kesuksesan ibarat bengkoang terkadang manusia harus menggali dan terkena tanah, mencucinya dengan hati-hati, jika mau menikmati manisnya KESUKSESAN
    manusia sering tidak mau kotornya ‘tanah’, yakni ujian hidup… sehingga SUKSES diraih org2 pilihan saja

  2. Trisna Firmansyah berkata:

    😉 mau dong Farouk Amsyari – Public Speaker ngisi motivasi pra-UN, MOS, PondokRomadhan, pas wisuda, training spiritual, istighosah, or tentang Tujuan Hidup d SMAN4Surabaya

    apalagi kalo juga ngajari public speaking ^_^ 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s